Headlines News :

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Dasar Ilmu Bilaghoh

Written By UKM UKKI on Jumat, 11 Januari 2013 | 12.59

بسم الله الرحمن الرحيم
DASAR-DASAR BALAGHAH
Shifat kalam yang baliigh

Tanaasuq al-ashwaat (kesesuaian bunyi) : a) derajat terendahnya ialah ketiadaan tanaafur huruf, b) derajat tertingginya ialah kesesuaian antara bunyi dan makna.
Tarkib lughawi yang sesuai : a) shahih (bebas dari khatha’ dan syadzdz), b) merepresentasikan makna secara efektif
Mengandung unsur-unsur imajinatif yang berkesan.

Unsur-unsur kalam :
1) Madhmun = makna
2) Syakl = lafazh
Hubungan diantara keduanya ibarat jasad dengan ruh.

Definisi Ilmu Balaghah
Ilmu Balaghah ialah ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal).

Tujuan ilmu balaghah :
mencapai efektifitas dalam komunikasi antara mutakallim dan mukhathab.

Jenis-jenis Ilmu Balaghah :
Ilmu Ma’ani : ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal.
Ilmu Bayan : ilmu yang mempelajari cara-cara penggambaran imajinatif. Secara umum bentuk penggambaran imajinatif itu ada dua. Pertama, penggambaran imajinatif dengan menghubungkan dua hal. Kedua, penggambaran imajinatif dengan cara membuat metafora yang bisa diindera.
Ilmu Badii’ : ilmu yang mempelajari karakter lafazh dari sisi kesesuaian bunyi atau kesesuaian makna. Kesesuaian tersebut bisa dalam bentuk keselarasan ataupun kontradiksi.

Fashahah
Berarti implementasi makna melalui lafazh-lafazh yang jelas.
Fashahah meliputi : 1) Kemudahan pelafalan. 2) Kejelasan makna (tidak gharib). 3) Ketepatan sharaf. 4) Ketepatan nahwu.
Setiap kalimat yang baliigh mesti fashiih, namun tidaklah kalimat yang fashiih itu selalu baliigh.


ILMU BAYAN

Tasybih : uslub yang menunjukkan perserikatan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam sifatnya.

Rukun-rukun atau unsur-unsurnya ialah :
1) Musyabbah : obyek yang ingin disifati
2) Musyabbah bihi : sesuatu yang dijadikan sebagai model untuk perbandingan
3) Wajh al-syibh : sifat yang terdapat dalam perbandingan
4) Aadaat al-tasybih : kata yang dipakai untuk menunjukkan adanya tasybih. Bisa berupa huruf (kaaf, ka-anna), fi’il (hasiba, zhanna, khaala, dsb), atau isim (matsal, syibh, syabiih,dsb).

Tasybih Baliigh : tasybih yang unsur-unsurnya tinggal dua saja yaitu musyabbah dan musyabbah bih.

Tasybih Tamtsili (Tasybih al-Tamtsil, Matsal) : jenis tasybih yang wajh al-syibh nya murakkab dari beberapa sifat, dan biasanya aqli.

Tasybih Dhamni : tasybih yang dipahami dari siyaq (konteks) kalimat, dan biasanya dilakukan dengan dua jumlah atau lebih sebagai ganti dari satu jumlah.

Tasybih Maqlub (Tasybih Yang Dibalik)
Asalnya, sifat yang ada pada musyabbah bih mesti lebih kuat daripada sifat pada musyabbah. Namun dalam tasybih maqlub, kondisi tersebut dibalik yakni sifat yang ada pada musyabbah lebih kuat daripada yang ada pada musyabbah bih. Pembalikan ini dilakukan untuk tujuan mubalaghah, yakni untuk menunjukkan bahwa sifat yang ada pada musyabbah sudah sangat kuat dan agar perhatian memang tertuju pada musyabbah.

Tujuan-tujuan Tasybih :
Secara umum tujuan tasybih ialah untuk menjadikan suatu sifat lebih mudah diindera. Adapun secara terperinci tujuan-tujuan tasybih ialah :
1) Bayaan miqdaar al-shifat (menjelaskan kualitas sifat)
2) Taqriir al-shifat (meneguhkan sifat)
3) Tahsiin al-musyabbah (memperindah musyabbah)
4) Taqbiih al-musyabbah (memperburuk musyabbah)
5) Tashwiir al-musyabbah bi shuurah al-thariifah
6) Itsbaat qadhiyyah al-musyabbah

Majaz : Penggunaan suatu kata dengan makna yang lain daripada maknanya yang lazim. Kebalikan dari majaz ialah haqiqah.
Majaz ada dua macam :
1) Majaz Mursal : majaz yang tidak dibangun diatas tasybih
2) Isti’arah : majaz yang dibangun diatas tasybih, atau penggunaan kata tidak dalam makna haqiqinya karena adanya hubungan keserupaan (syibh) antara makna yang dipakai tersebut dan makna haqiqinya.

Isti’arah Tashrihiyah : mengemukakan maksud musyabbah dengan menggunakan lafazh musyabbah bih, dan setiap orang mesti akan memahami bahwa maksud yang sebenarnya ialah musyabbah berdasarkan konteks kalimatnya. Dalam hal ini sang penutur menggunakan musyabbah bih dengan menghilangkan musyabbahnya. Konteks kalimat harus benar-benar menunjukkan bahwa musyabbah bih tidaklah digunakan dalam makna hakikinya, tetapi sebaliknya yakni mengandung makna musyabbah. Indikasi yang demikian ini disebut sebagai qarinah al-isti’arah.

Isti’arah Makniyah : Dalam isti’arah ini, musyabbah bih tidak muncul dengan jelas akan tetapi sedikit samar. Lafazh yang menunjukkan isti’arah dengan demikian bukanlah lafazh musyabbah bih melainkan lafazh-lafazh yang mengiringinya atau lafazh-lafazh yang menunjukkan sifat-sifatnya. Lafazh-lafazh ini dinisbatkan kepada musyabbah bih. Jadi, tasybih yang ditimbulkan bersifat mudhmar didalam pikiran.
Apabila suatu isti’arah makniyah menyerupakan sesuatu dengan manusia maka ia disebut tasykhish (personifikasi).

Kinayah : penunjukan terhadap suatu makna yang dimaksud dengan secara tidak langsung, dimana lafazh yang dipakai tidak sampai keluar dari makna haqiqinya ke makna majazinya.
Macam-macam kinayah :
1) Kinayah dari shifat
2) Kinayah dari dzat
3) Kinayah dari nisbah


ILMU MA’ANI
Asas dari jumlah ialah isnad. Jumlah terbagi dua : jumlah khabariyah dan jumlah insya-iyah.

Khabar dan Insya’
Jenis-jenis insya’ yang terpenting : amr, nahy, istifham, dan tamanniy

Tujuan-tujuan Khabar
1) Tujuan asal dan yang lazim ialah untuk memberitahu kepada mukhathab sesuatu yang belum ia ketahui.
2) Tujuan lainnya ialah ta’tsir nafsi (memberikan kesan kejiwaan) yang meliputi : ‘izhah (nasihat), sikhriyah(olok-olok), istihtsaats (membangkitkan semangat), dan madh (pujian).

Bentuk-bentuk Khabar
1) Uslub (dharb) ibtida-iy : tanpa adat ta’kid, digunakan apabila mukhathab dalam keadaan khaliy al-dzihni.
2) Uslub (dharb) thalabiy : menggunakan satu ta’kid, digunakan apabila mukhathab ragu-ragu sehingga membutuhkan penegasan.
3) Uslub (dharb) inkariy : menggunakan dua ta’kid atau lebih, digunakan jika mukhathab mungkir terhadap khabar.

Amar dan Nahy
Shighat-shighat amar : 1) F’il amar. 2) Fi’il mudhari’ yang didahului oleh laam amr. 3) Mashdar sebagai pengganti fi’il amar
Makna amar : talab al-fi’il dari otoritas yang lebih tinggi kepada otoritas yang lebih rendah.
Makna nahy : talab tark al-fi’il dari otoritas yang lebih tinggi kepada otoritas yang lebih rendah.
Namun terkadang amar dan nahy mempunyai makna lain: 1) Doa. 2) Tahqiir. 3) Tahdiid. 4) Nasihat. 5) Sikhriyyah (olok-olok)

Istifham : Adat-adatnya
1) Dua huruf : hamzah dan hal. Perbedaan antara hamzah dan hal : a) Hamzah bisa digunakan untuk menuntut penentuan pilihan. Dalam hal ini hamzah disertai dengan huruf “am” (atau). b) Pertanyaan dengan hamzah cocok jika digunakan menghadapi orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
2) Sembilan isim : 1.Maa : menuntut definisi hakikat yang ditanyakan. 2.Man : menuntut penentuan yang ditanyakan berupa isim atau shifat yang berakal. 3.Ayyu : menuntut penentuan salah satu dari hal-hal yang di-idhafah-kan kepadanya. 4.Kam : menanyakan jumlah. 5.Kaifa : menanyakan hal (keadaan). 6.Aina : menanyakan tempat. 7.Annaa : terkadang bermakna “darimana (min aina)” dan terkadang bermakna “bagaimana (kaifa)”. 8.Mataa : menanyakan waktu. 9.Ayyaana : menanyakan waktu

Istifham : Makna-makna Yang Ditimbulkannya
Terkadang istifham bisa menimbulkan makna yang bukan makna asli istifham. Makna-makna tersebut ialah:
1) Ta’ajjub
2) Taubikh
3) Istihzaa’
4) Wa’iid
4) Tamanniy
5) Taqriir
6) Istibthaa’
7) Istihtsaats
8) Tahwiil

Tamanniy
1) Laita
2) Hal
3) La’alla
4) Lau laa
5) Lau maa


ILMU BADII’

Thibaaq wa Muqaabalah
Thibaaq : menggabungkan dua hal yang saling bertentangan dalam sebuah kalam.
Muqabalah : jenis thibaq dimana terdapat dua makna atau lebih yang diikuti (disusul) dengan lawannya secara urut.

Sajak : kesesuaian pada akhir dari hentian-hentian (waqaf) pada natsr. Dalam syi’r, yang demikian ini disebut dengan qafiyah.
Sebagian ulama tidak sepakat apabila dikatakan bahwa kebanyakan ayat Al-Qur’an merupakan sajak-sajak. Dalam hal ini mereka lebih suka menyebutnya sebagai faashilah (jamak : fawaashil). Mereka mengemukakan dua alasan :
1) Sajak itu mesti berulang-ulang sebagaimana qafiyah dalam syi’r. Sementara, apa yang terdapat dalam Al-Qur’an tidaklah seluruhnya demikian.
2) Sajak itu dibuat dengan mengalahkan makna dalam rangka kesesuaian bunyi atau lafazh. Sementara, Al-Qur’an sangat memelihara makna atau menjadikan makna sebagai hal ang terpenting diatas yang lainnya.

Jinas : keserupaan lafazh antara dua kata atau lebih tanpa disertai keserupaan makna.
Jinas ada dua : taamm dan naaqish
سم الله الرحمن الرحيم
PENGERTIAN ILMU BALAGHAH, MA'ANI, BAYAN DAN BADI'


A. Balaghah
1. Pengertian Balaghah
Secara etimologi (bahasa), balaghah ialah sampai atau mencapai. Balaghah secara terminologi dikatakan bahwa balaghah menjadi sifat bagi kalimat (ÇáßáÇã) dan pembicara atau orang yang berkata (ÇáãÊßáã), sehingga : ßáÇã ÈáíÛ dan ãÊßáã ÈáíÛ tidak menjadi sifat bagi kata (ÇáßáãÉ) sebab memang tidak didengar ketentuannya.
Balaghah ialah menyampaikan makna yang agung secara jelas dengan



menggunakan kata-kata yang benar dan fasih, yang memiliki kesan dalam hati dan cukup menarik, serta sesuai setiap kalimatnya kepada kondisi atau situasi sekaligus orang-orang yang diajak bicara.

2. Kalimat yang baligh
“Kalimat baligh adalah kalimat yang sesuai dengan kondisi khitab dan lafadz-lafadznya telah fasik, baik kata-kata ataupun kalimat-kalimatnya.”
- Kondisi khitab disebut juga “maqam” ialah hal-hal yang merangsang pembicaraan untuk menyampaikan kata-katanya dengan bentuk khusus.
- Kondisi khitob atau muqtadhal hal ialah keadaan yang mengajak untuk menyampaikan kalimat sesuai dengan konteksnya. Artinya, sesuai dengan mukhatabnya dan bentuk khususnya.

3. Balaghah pembicara
Balaghah pembicara adalah kemampuan yang ada dihati yang dengan kemampuan itu dapat disusun kalimat yang baligh yang sesuai dengan kontekstual. Bersama itu kalimat tersebut telah fasik dalam segala makna yang dituju.
Yang dimaksud dengan kemampuan yang ada dihati adalah bakat, suatu sifat yang tertanam dihati manusia. Oleh karenannya, seorang yang “baligh” (petah lidahnya) haruslah berpikir mengenai makna yang ada dihatinya terlebih dahulu sebelum mengucapkan perkataan.
Bagi peminat ilmu baligh wajib mengetahui ilmu bahasa, ilmu sharaf, ilmu tata bahasa (nahwu), ilmu ma'ani, ilmu bayan dan ilmu badi'. Sebagai peminat ilmu balaghah sebaiknya mengetahui tentang uslub (gaya bahasa) yang merupakan makna yang dibentuk dalam lafadz untuk mencapai makna yang dimaksudkan. Gaya bahasa ada 3 macam, yaitu :
a. Gaya bahasa ilmiah. Keistimewaan metode ini yang paling menonjol adalah memberikan kejelasan dan mesti menampakkan kesan yang kuat dan indah.
b. Gaya bahasa sastra. Pada gaya bahasa ini, keindahan adalah merupakan sifat-sifatnya yang paling menonjol. Gaya bahasa ini menampilkan khayalan indah, gambaran halus dan menyentuh. Aspek puisi dan prosa merupakan sasaran metode ini.
c. Gaya bahasa pidato. Pada metode ini, terdapat posisi yang agung mengenai kesan dan sasarannya kelubuk hati. Diantara hal yang bisa menambah kesan ialah kedudukan si khatib sendiri di hati para pendengarnya, kekuatan sifat yang dimilikinya, argumentasinya, ketinggian suaranya, kebaikan cara menyampaikannya dan kekukuhan isyarat-isyaratnya.

B. Ilmu Ma'ani
1. Pengertian
Ilmu Ma'ani adalah pokok-pokok dan dasar-dasar untuk mengetahui tata cara menyesuaikan kalimat kepada kontekstualnya (muqtadhal halnya) sehingga cocok dengan tujuan yang dikehendaki.
Perkataan Al-Ma'ani adalah bentuk jamak dari kata makna. Secara terminology adalah hal yang dituju. Menurut pengertian terminology ulama ilmu Bayan ialah menyatakan apa yang tergambar di hati dengan suatu ucapan atau lafazd, atau tujuan yang dimaksudkan oleh lafadz tergambar di dalam hati.
2. Faedah ilmu Ma'ani
a. Mengetahui kemukjizatan al-Qur'an melalui aspek kebaikan susunan dan sifatnya, keindahan kalimat, kehalusan bentuk ijaz yang telah diistemawakan oleh Allah dan segala hal yang telah dikandung oleh al-Qur'an itu sendiri.
b. Mengetahui rahasia balaghah dan fushahah dalam bahasa Arab yang berupa prosa dan puisi agar dapat mengikutinya dan menyusun sesuai dengan aturannya serta membedakan antara kalimat yang bagus dengan yang bernilai rendah.

C. Ilmu Bayan
1. Pengertian
Al-Bayan (البيان) menurut pengertian bahasa adalah Al-Kasyafu (الكشف) yang berarti membuka atau menyatakan. Bisa juga disebut Al-Lidhaah (ÇáÇíÖÇÍ). Artinya menerangkan atau menjelaskan.
Menurut istilah ulama Balaghah (Al-Balagha') adalah :
ÇÕæá æÊæÇÚÏ íÚÑÝ ÈåÇ ÇíÑÇÏ ÇáãÚäì ÇáæÇÍÏ ÈØÑÞ íÎÊáÝ ÈÚÕåÇ Úä ÈÚÖ Ýì æÖæÍ ÇáÏáÇáÉ Úáì äÝÓ Ðáß ÇáãÚäì.
“Dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan satu makna dengan beberapa cara yang sebagiannya berbeda dengan sebagian yang lain dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.”
Jadi, ilmu Bayan adalah ilmu pengetahuan yang dijadikan pedoman untuk menyatakan satu makna dengan beberapa bentuk yang berbeda dan susunan yang berlainan derajat kejelasannya.
Perlu diketahui bahwasannya yang dianggap dalam ilmu Bayan adalah kehalusan makna-makna yang terdiri dari isti'arah dan kinayah beserta jelasnya lafadz-lafadz yang menunjukkannya.
Dari itu dapat disimpulkan bahwa Al-Bayan adalah lafadz atau ucapan yang fasih yang menjelaskan maksud yang ada dalam hati nurani.
2. Pembahasan Ilmu Bayan
Pembahasan ilmu Bayan ini adalah lafadz-lafadz Arab dari segi majaz dan kinayah. Sedangkan hakikat dan tasyabih, bukan termasuk dalam pembahasan ilmu Bayan.
3. Faedah Ilmu Bayan
Faedah ilmu ini adalah dapat melihat atau mengetahui rahasia-rahasia kalimat Arab, baik prosa maupun puisinya, dan juga mengetahui perbedaan macam-macam kefasikan dan perbedaan tingkatan sastra, yang dengannya ia dapat mengetahui tingkat kemukjizatan al-Qur'an dimana manusia dan jin kebingungan untuk menirunya dan tidak mampu menyusun semisalnya.

D. Ilmu Badi'
Al-Badi' (البديع) menurut pengertian etimologi ialah sesuatu yang diciptakan tanpa dengan contoh yang mendahului. Menurut pengertian terminology ialah :
Úáã íÚÑÝ Èå ÇáæÌæå æÇáãÒÇíÇ ÇáÊì ÊÒíÏ ÇáßáÇã ÍÓäÇ æØáÇæÉ æÊßÓæå ÈåÇÁ æÑæäÞÇ ÈÚÏãØÇ ÈÞÊå áãÞÊÖì ÇáÍÇá ææÖæÍ ÏáÇáÊå Úáì ÇáãÑÇÏ.
“Suatu ilmu yang dengannya diketahui segi-segi dan keistimewaan-keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menguasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta jelas makna yang dikehendaki.”
Segi-segi yang dimaksud adalah cara-cara yang ditetapkan untuk mengiasai kalimat dan memperindahnya, dengan ilmu Ma'ani dan ilmu Bayan menurut materinya dan dengan ilmu Badi' menurut sifatnya.
Memperindah kalimat ada 2 :
1. Memperindah kalimat secara maknawiyah (muhassinat ma'nawiyah) ialah tata cara memperindah yang kembali kepada segi makna sejak semula dan sesuai dengan keadaannya, walaupun lafadz menjadi indah karena mengikutinya.
2. Memperindah kalimat secara lafdziyah (muhassinat lafdziah) ialah tata cara memperindah kalimat yang hanya kepada segi lafadz saja, sejak semula, meskipun segi makna menjadi indah karena mengikutinya

Ilmu Ma'ani

A. Pengertian

• Ma’aani jamak dari ma’na, secara leksikal berarti arti
• Secara istilah: ilmu untuk mengetahui hal ihwal lafal bahasa yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi
• Objek kajiannya hampir sama dengan ilmu nahwu. Hanya kalau ilmu nahwu membahas makna yg lebih bersifar mufrad, sedang ma’ani lbh besifat tarkibi

B. Kajian

• Kalimat dan bagian-bagiannya
o Musnad – musnad ilaih
o Fi’il – mutaallaq

• Jumlah
o Fashal
o Washal
o Ijaz
o Ithnab
o musawat

Lebih rinci meliputi 8 macam kajian:
o Ihwal Isnad Khabary
o Ihwal musnad ilaih
o Ihwal musnad
o Ihwal mutaaliqaatul fi’li
o Al-Qashr
o Al-Insya’
o Alfashal dan alwashal
o Al-Ijaaz, al-ithnaab, dan al-musaawah

Jumlah = Kalimat

1. Jumlah Ismiyah
• Ismiyah : suatu jumlah (kalimat) yang terdiri atas mubtada’ dan khabar.
• Fungsi jumlah ismiyah adalah menetapkan sesuatu hukum pada sesuatu.
• Jumlah ini tidak berfungsi untuk tajaddud/pembaruan dan istimrar/kontinuitas (terutama yang khabarnya berbentuk fa’il atau isim maf’ul.
• Jika khabarnya berbentuk fi’il, maka mengandung dimensi waktu (bisa lampau, sekarang, atau yang akan datang)
• Jumlah ismiyah (kalimat nominal), mubtada’ ditempatkan di awal kalimat sedangkan khabar ditempatkan sesudahnya
• Jika mubtada berbentuk nakirah (indefinitive) dan khabar berupa frase preposisi, maka khabar didahulukan

2. Jumlah Fi’liyah
• Jumlah fi’liyah: kalimat yang terdiri atas fi’il dan fa’il atau fi’il dan naibul fa’il
• Mengandung makna pembatasan waktu (lampau. Sedang, akan). Setiap fi’il hanya ada satu pembatas waktu.
• Waktu pada fi’il tdk perlu ada qarinah lafdziyah
• Penanda waktu pada isim perlu qarinah lafdhiyah
• Fi’il juga bisa menunjukkan makna tajaddud
• Jumlah fi’liyah juga bisa menunjukkan adanya perubahan secara berkesinambungan dan bertahap sesuai konteks dan indikatornya (syarat fi’ilnya berupa mudhari’)
• Pada jumlah fi’liyah (kalimat verbal), fi’il (verba) dapat berbentuk aktif dan pasif.
• Karakteristik jumlah fi’liyah tergantung kepada fi’il. Fi’il madhi membentuk karakter (baik positif maupun negatif). Sedangkan fi’il mudhari’ membentuk tajaddud (pembaharuan)
• Selain struktur, kalimat juga bisa digolongkan dari segi isi. Dari segi isi, baik jumlah ismiyah maupun fi’liyah ada kita sebut jumlah mutsabatah (kalimat positif) dan jumlah manfiyah (kalimat negatif).
• Jumlah mutsabatah (kalimat positif) ialah kalimat yang menetapkan keterkaitan antara subjek dan predikat (baik dalam jumlah ismiyah maupun jumlah fi’liyah)
• Jumlah manfiyah (kalimat negatif ialah kalimat yang menegasikan/meniadakan hubungan antara subjek dan predikat

IHWAL MUSNAD DAN MUSNAD ILAIH
• Jumlah (kalimat) paling tidak terdiri dari atas dua unsur. Kedua unsur itu dalam ilmu ma’aani adalah musnad dan musnad ilaih.
• Dalam ilmu ushul fiqh: musnad = mahkum bih. Musnad ilaih = mahkum ilaih
• Dlm gramatika Arab ada umdah = pokok dan fadlah = pelengkap. Fadllah = qayyid (dalam ma’aani)
• Posisi musnad dan musnad ilaih bervariasi tergantung bentuk jumlah/kalimat dan posisinya dalam kalimat
• Kaitan antara musnad dan musnad ilaih dinamakan isnad.
• Isnad: penisbatan suatu kata dengan kata lainnya sehingga memunculkan penetapan suatu hukum atas yang lainnya baik bersifat positif maupun negatif.

A. MUSNAD ILAIH
• Secara leksikal = yang disandarkan kepadanya.
• Secara istilah = mubtada yang mempunyai khabar, fa’il, naibul fa’il, dan beberapa isim dari amil nawasikh.
• Pengertian lain = kata/kata-kata yang kepadanya dinisbatkan suatu hukum, pekerjaan, dan keadaan
• Posisi musnad ilaih dalam kalimat:
• Fa’il
• Naib fa’il
• Mubtada’
• Ismu “kaana” dan sejenisnya
• Ismu “inna” dan sejenisnya
• Maf’ul pertama “dhanna” dan sejenisnya
• Maf’ul kedua dari “ra’aa” dan sejenisnya

B. MUSNAD
• Musnad = sifat, fi’il, atau sesuatu yang bersandar kepada musnad ilaih.
• Musnad berada pada tempat-tempat:
o Khabar mubtada
o Fi’il tam
o Isim fiil
o Khabar “kaana” dan sejenisnya
o Khabar “inna” dan sejenisnya
o Maf’ul kedua dari “dhanna” dan sejenisnya
o Maf’ul ketiga dari “ra’aa” dan sejenisnya

C. Mema’rifatkan Musnad Ilaih
• Dengan Isim alam
• Dengan dhamir
• Dengan isim isyarah
• Dengan isim maushul
• Dengan “Al”
• Dengan idhofah
• Dengan nida’
• Mema’rifatkan dengan isim alam:
o Menghadirkan zat pada ingatan pendengar
o Memuliakan/menghinakan musnad ilaih
o Optimis/mengharap yang baik

• Mema’rifatkan dengan dhomir
o Dhamir mutakallim
o Dhamir mukhattab
o Dhamir ghaib

• Mema’rifatkan dengan isim isyarah
o Menjelaskan keadaan musnad ilaih (jauh, sedang, dekat)
o Mengingatkan bhwa musnad ilaih layak memiliki sifat-sifat yang akan disebut
o Mengungkapkan derajat musnad ilaiah (dekat, sedang, jauh)
o Menampakkan rasa aneh
o Menyindir kebodohan mukhatthab
o Mengingatkan bahwa yang diisyarahkan pantas menyandang sifat-sifat tertentu.

• Mema’rifatkan dengan isim maushul:
o Tidak baik kalau dengan cara jelas
o Mengagungkan
o Menumbuhkan keingin tahuan
o Merahasiakan sesuatu dari selain mukhatthab
o Mengingatkan kesalahan mukhatthab
o Mengingatkan kesalahan selain mukhatthab
o Mengagungkan kedudukan mahkum bih
o Mengejutkan: mengagungkan/menghina
o Tidak etis menyebut nama diri
o Menentukan pahala/siksa
o Mencela
o Menunjukkan keseluruhan
o Menyamarkan
• Mema’rifatkan dengan “al”
o Mengisyarahkan kenyataan sesuatu, maknanya terlepas dari kaidah umum – khusus
o Mengisyarahkan hakikat yang samar
o Mengisyarahkan setiap satuan yang bisa dicakup lafal menurut bahasa
o Menunjuk seluruh satuan dalam kondisi terbatas
(Catatan: ada “al” lil ahdi dan “al” liljinsi)
• Mema’rifatkan dengan idhafah
o Sebagai cara singkat menghadirkan musnad ilaih di hati pendengar
o Menghindarkan kesulitan membilang-bilang
o Keluar dari tuntutan mendahulukan sebagian atas sebagian yang lain
o Mengagungkan mudhaf dan judhaf ilaih
o Meremehkan
• Mema’rifatkan dengan nida’
o Bila tanda-tanda khusus tidak dikenal oleh mukhatthab
o Mengisyarahkan kepada alasan untuk sesuatu yang diharapkan

D. MENAKIRAHKAN MUSNAD ILAIH
• Menunjukkan jenis
• Menunjukkan banyak
• Menunjukkan sedikit
• Merahasiakan perkara
• Untuk makna mufrad
• Menjelaskan jenis/macam

E. MENYEBUT MUSNAD ILAIH
• Al-idhah wat tafriq (menjelaskan dan membedakan)
• Ghabwatul mukhatthab (menganggap mukhatthab tdk tahu)
• Taladzdzudz (senang menyebutnya)

F. MEMBUANG MUSNAD ILAIH
• Untuk meringkas
• Terpeliharanya lisan ketika menyebut
• Li al-hujnah (merasa jijik menyebutnya)
• Li at-tamiim (generalisasi)
• Ikhfaul amri an ghairi mukhatthab (menyembunyikan musnad ilaih kepada selain mukhatthab)

IHWAL KALAM KHABARI

• Kalam adalah untaian kata yang memiliki pengertian yang lengkap. Dalam konteks ilmu balaghah kalam ada dua jenis: (1) kalam khabari dan (2) kalam insya’I
• Kalam khabari ialah kalimat yang mengandung kemungkinan benar atau tidak benar.

A. Tujuan Kalam Khabari
• Faidah al-khabar: untuk orang yang belum tahu sama sekali
• Lazimal Faidah: untuk orang yang sdh mengerti isi dari pembicaraan
Pengembangannya, untuk tujuan:
• Istirham (minta dikasihi)
• Idhar al-dha’fi ( memperlihatkan kelemahan)
• Idhar al-tahassur (memperlihatkan penyesalan)
• Al-fakhr (kesombongan)
• Dorongan kerja/berbuat keras


B. Jenis-jenis Kalam Khabari
• Mukhatthab yang belum tahu (khaalidz dzihni) – ibtida’i
• Mukhatthab ragu-ragu (mutariddid adzdzihni) - thalabi
• Mukhatthab yang menolak (inkari) – inkari

C. Deviasi Kalam Khabari
• Kalam thalabi digunakan untuk mukhatthab khaalidz dzihni
• Kalam ibtida’I digunakan untuk mukhatthab inkari

KALAM INSYA’I
• Kalam insya’I adalah suatu kalam yang setelah ucapan itu dituturkan tidak bisa dinilai benar atau dusta. Kalam insya’I merupakan kebalikan kalam khabari.
• Kalam insya’i: (1) insya’I thalabi: amar, nahyu, istifham, tamanni, dan nida’, (2) insya’I ghair thalabi: ta’ajjub, madz al-Dzamm, qasam, kata-kata yang diawali af’alur raja. Yg kedua ini tdk masuk bahasan ilmu ma’ani



A. Amar
• Amar adalah tuntutan untuk mengerjakan sesuatu dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Adat untuk amr adalah dengan:
o fi’il amr,
o fi’il mudhari yang disertai lam amr,
o isim fi’il amar, dan
o mashdar pengganti fi’il.

B. Nahyu
• Nahyu adalah tuntutan meninggalkan sesuatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi. Adat nahyu adalah:
o Fiil mudhari’ yang sebelumnya dimasuki lam nahyi

C. Istifham
• Istifham adalah menuntut pengetahuan tentang sesuatu. Adat yang bisa digunakan:
o Hal
o A
o Ma
o Man
o Mata
o Ayyana
o Kaifa
o Aina
o Anna
o Kam
o ayyu

• Hamzah sebagai adat istifham mempunyai dua makna:
o Tashawwuri: jawaban yang bermakna mufrad. Ungkapan istifham yang meminta pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat mufrad = istifham tasawwuri
o Tashdiq: penisbatan sesuatu atas yang lain
• Man = untuk menanyakan orang
• Ma = untuk menanyakan sesuatu yang tidak berakal. Untuk meminta penjelasan tentang sesuatu atau hakikat sesuatu
• Mata = digunakan untuk meminta penjelasan tentang waktu (lampau maupun sekarang)
• Ayyaana = digunakan untuk meminta penjelasan mengenai waktu yang akan datang. Kata ini biasanya digunakan untuk menantang
• Kaifa = digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu
• Aina = digunakan untuk menanyakan tempat
• Hal = untuk menanyakan penisbatan sesuatu pada yang lain (tashdiq) atau kebalikannya. Mutakallim tdk mengetahui nisbah atau musnad dan musnad ilaihnya. Adat hal tdk bisa masuk ke dalam nafyu, mudhari makna sekarang, syarat, huruf athaf. Sedang hamzah bisa.
• Anna = (1) maknanya sama dengan kaifa, (2) bermakna aina, (3) maknanya sama dengan mata
• Kam = merupakan adat istifham yang maknanya menanyakan jumlah yang masih samar. Juga untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan waktu, tempat, keadaan, jumlah, baik yang berakal maupun yang tidak
• Ayyu = digunakan untuk menanyakan dengan mengkhususkan salah satu darai dua hal yang berserikat.
• Deviasi Istifham:
o Untuk maksud amar
o Untuk maksud nahyu
o Untuk maksud taswiyah (menyamakan dua hal)
o Untuk maksud nafyu (negasi)
o Untuk maksud inkar (penolakan)
o Untuk maksud tasywiq (mendorong)
o Untuk maksud penguatan
o Untuk maksud ta’dzim (mengagungkan)
o Untuk maksud tahqir (merrendahkan)
o Untuk maksud taajjub (mengagumi)
o Untuk maksud Alwa’id (ancaman)
o Untuk maksud tamanni (harapan yang tak mungkin terkabul)

D. Nida’ = Panggilan
• Nida adalah tuntutan mutakallim yang menghendaki seseorang agar menghadapnya. Adat yang biasa digunakan untuk memanggil adalah: a, ay, ya, aa, aai, ayaa, hayaa, dan waa
• a dan ay untuk munada yang dekat
• selainnya untuk munada yang jauh
• khusus untuk yaa bisa untuk yang dekat maupun yang jauh
• Kadang-kadang munada yang jauh digunakan adat nida a atau ay (karena dianggap ada kedekatan hati)
• Kadang-kadang munada yang dekat dianggap jauh (karena bisa dianggap ketinggian munada, atau kerendahan martabat, kelalaian, kebekuan hati)
• Penyimpangan makna nida:
o Untuk anjuran, mengusung, mendorong, menyenangkan
o Teguran keras/mencegah
o Penyesalan, kresahan, kesakitan
o Mohon pertolongan/istighotsah
o Ratapan/mengaduh
o Minta belas kasihan
o Merasa sayang, menyesal
o Keheranan atau kekaguman
o Bingung dan gelisah (tidak puas, tdk sabar, bosan)
o Mengingat-ingat
o Mengkhususkan (menuturkan isim zhahir setelah isim dhamir dengan tujuan menjelaskannya. Ini mempunyai tujuan: (1) tafakhur = membanggakan, (2) tawadhu’ = rendah hati.

E. Tamanni
• Tamanni (berangan-angan) adalah kalimat yang berfungsi untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu yang diskai tetapi tidak mungkin untuk dapat meraihnya
• Menurut istilah balaghah: menuntut sesuatu yang diinginkan, akan tetapi tidak mungkin terwujud. Ketidakmungkinan terwujudnya sesuatu itu bisa terjadi karena mustahil terjadi atau juga sesuatu yang mungkin akan tetapi tidak maksimal dalam mencapainya. Juga ungkapan yang mungkin terwujud tetapi tidak terwujud karena tidak berusaha secara maksimal.

FASHL DAN WASHL
• Fashl secara leksikal bermakna ‘memotong, memisahkan, memecat, menyapih’. Secara terminologi adalah tidak mengathafkan suatu kalimat dengan kalimat lainnya
• Washl secara leksikal bermakna ‘menghimpun atau menggabungkan’. Secara terminologis adalah mengathafkan satu kalimat dengan kalimat sebelumnya melalui huruf athaf
• Fashl digunakan pada tiga tempat:
• Jika antara kalimat pertama dan kedua terdapat hubungan yang sempurna. Kalimat kedua berfungsi sebagi taukid atau penjelas, atau badal bagi kalimat yang pertama,
• Antara kalimat pertama dan kedua bertolak belakang
• Kalimat kedua sebagai jawaban bagi yang pertama
• Washl digunakan pada tiga tempat:
• Keadaan i’rab antara kedua kalimat sama
• Adanya kekhawatiran timbulnya kesalahpahaman jika tidak menggunakan huruf athaf
• Kedua jumlah sama-sama khobari atau sama-sama insya’i dan mempunyai keterkaitan yang sempurna

QASHR
• Qashr secara leksikal bermakna ‘penjara’. Secara terminologis adalah mengkhususkan sesuatu atas yang lain dengan cara tertentu
• Qashar memiliki empat unsur:
o Maqshur (berbentuk sifat atau maushuf)
o Magshur alaih (berbentuk sifat atau maushuf)
o Maqshur anhu yaitu sesuatu yang berada di luar yang dikecualikan
o Adat qashr.
LAA YAFUUZU ILLA AL-MUJIDDU.
YAFUUZU = MAQSHUR; AL-MUJIDDU = MAQSHUR ALAIH;
SELAIN AL-MUJIDDU = MAQSHUR ANHU; LA DAN ILLA = ADAT
QASHR

A. Jenis-jenis Qashr
• Dilihat dari aspek hubungan antara pernyataan dengan realitas:
o Qashr hakiki: apabila antara makna dan esensi dari pernyataan tsb menggambarkan sesuatu yg sebenarnya. Pernyataan tsb bersifat universal, tdk bersifat kontekstual, dan diperkirakan tdk ada pernyataan yg membantah atau pengecualian lagi setelah pernyataan tsb. (LAA ILAAHA ILLA ALLAH)
o Qashr idhafi: ungkapan qashr bersifat nisbi. Pengkhususan maqshur alaih pada ungkapan qashr ini hanya terbatas pada maqshurnya, tidak pada selainnya (WAMAA MUHAMMADUN ILLA RASUL QAD KHALAT MIN QABLIHIR RUSUL)

• Dilihat dari dua unsur utamanya (maqshur dan maqshur alaih):
o Qashar sifat ala maushuf (Sifat dikhususkan hanya untuk maushuf)
o Qashr maushuf ala sifah (maushuf hanya dikhususkan untuk sifat)

Catatan: sifat di sini adalah ma’nawiyah; bukan isim sifat dalam konteks nahwu.

B. Teknik Penyusunan Qashr
• Menggunakan kata-kata yg secara langsung menggambarkan pengkhususan (menggunakan kata qashr dan khushush)
• Menggunakan dalil di luar teks, seperti pertimbangan akal, perasaan indrawi, pengalaman, atau berdasarkan prediksi yang didukung oleh indikator-indikator tertentu.
• Menggunakan adat qashar:
o An-nafyu wal istitsna’ (negasi dan pengecualian
o Innama (hanya saja)
o Athaf dengan huruf la, bal, lakinna
- Laa bermakna mengeluarkan ma’ thuf dari hukum yg berlaku untuk ma’thuf alaih. Posisi maqshur dan maqshur alaih sebelum huruf athaf “laa”. Penggunaan laa untuk menqashar hrs memenuhi syarat: (1) ma’thufnya mufrad bkn jumlah, (2) didahului oleh ungkapan ijab, amar, atau nida’ (3) ungkapan sebelumnya tidak membenarkan ungkapan sesudahnya
- Kata “bal” = dalam qashr bermakna idhrab (mencabut hukum dari yang pertama dan menetapkan kepada yang kedua). Posisi maqshur alaih nya terletak setelah kata “bal”. Syarat-syarat: (1) ma’thuf bersifat mufrad, bkn jumlah, (2) didahului oleh ungkapan ijab, amar, atau nida.
- Kata “lakinna” menjadi adat qashar berfungsi sebagai istidrak. Kata ini sama fungsinya dengan “bal”

IJAZ, ITHNAB, DAN MUSAWAH
• Ijaz secara leksikal bermakna ‘meringkas’. Secara istilah dalam balaghah: mengumpulkan makna yang banyak dengan menggunakan lafal yang sedikit
• Efisiensi kalimat (ijaz) ada dua cara:
o Qashar = meringkas
o Hadzaf = membuang (bisa huruf, kata, frase, atau beberapa kalimat)
• Ithnab secara leksikal bermakna ‘melebih-lebihkan’. Secara istilah menambah lafal atas maknanya. Atau mendatangkan makna dengan perkataan yang melebihi apa yang telah dikenal oleh banyak orang
• Lima bentuk ithnab:
o Menyebutkan yang khusus setelah yang umum
o Menyebutkan yang umum setelah yang khusus
o Menjelaskan sesuatu yg umum
o Pengulangan kata atau kalimat
o Memasukkan sisipan
• Musawah secara leksikal bermakna ‘sama’ atau ‘sebanding’. Secara terminologi adalah pengungkapan suatu makna melalui lafal yang sepadan, tidak menambahkan dan tidak mengurangkan.

Ilmu Badi

علوم البلاغة بديع

العلم في حد ذاته بديع
وفقا للمعجمية : خلق الجديد الذي لم المثال السابق
وفقا لمصطلحات :
مع العلم شيئا الأساليب المعروفة والطرق المبينة لتزيين وتجميل الجملة بعد الجملة غير مناسبة لظروف واضحة المعنى المطلوب.

الهدف من الدراسة العلمية بادي "هو محاولة لتجميل اللغة سواء على مستوى النطق (بعض الكتابات) ومعنى (معنى معين)
إذا المعاني والببغاوات مناقشة المواد ومحتوياته، ثم 'بادي يناقش جوانب الطبيعة.

AL-BALAGHAH: Ilmu Badi'

A. Hakikat Ilmu Badi’
Menurut leksikal: suatu ciptaan baru yang tidak ada contoh sebelumnya
Menurut terminologi: Suatu ilmu yang dengannya diketahui metode dan cara-cara yang ditetapkan untuk menghiasi kalimat dan memperindahnya setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi dan telah jelas makna yang dikehendaki
Objek kajian ilmu badi’ adalah upaya memperindah bahasa baik pada tataran lafal (muhassinaat lafdziyyah) maupun makna (muhassinaat ma’nawiyyah)
Kalau ma’aani dan bayan membahas materi dan isinya, maka badi’ membahas dari aspek sifatnya.

B. Muhassinaat Lafdhiyyah
Jinas: suatu kata yang merupakan derivasi dari kata umum dari nau’. Dalam ilmu balaghah, jinas bermakna kemiripan pengungkapan dua lafal yang berbeda artinya. Atau dengan kata lain, suatu kata yang digunakan pada tempat yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda
Iqtibas, secara leksikal bermakna ‘menyalin’ dan ‘mengutip’. Secara terminologi adalah kalimat yang disusun oleh penulis dengan menyertakan patikan ayat atau hadits ke dalam rangkaian kalimatnya tanpa menjelaskan bahwa petikan itu berasal dari al-Quran atau hadits.
Saja’, secara leksikal bermakna ‘bunyi’ atau ‘indah’. Secara terminologis, saja’ adalah persesuaian bunyi. Jenis-jenis saja’:
- Al-Mutharraf: sajak yang dua akhir kata pada sajak itu berbeda dalam wazannya, dan persesuaiannya dalam huruf akhirnya
- Al-Murashsha’: saja’ yang padanya lafal-lafal dari salah satu rangkaiannya, seluruhnya atau sebagian besarnya semisal bandingannya dari rangkaian yang lain
– Al-Mutawaazi: saja’ yang persesuaian padanya terletak pada dua kata yang akhir saja.
Saja’ yang indah:
– Sama faqrahnya
– Faqrah kedua lebih panjang
– Yang terpanjang faqrah ketiganya
– Bagian-bagian kalimatnya seimbang
– Rangkaian kalimatnya bagus dan tidak dibuat-buat
– Bebas dari pengulangan yang tidak berfaedah
Ada kemiripan antara jinas dan saja’. Perbedaannya:
– Pada jinas, kemiripan dua lafal yang berbeda artinya atau maknanya. Sedangkan saja’ adalah cocoknya huruf akhir dua fashilah atau lebih.
– Kemiripan pada jinas terdapat pada macam huruf, syakal, jumlah, dan urutannya. Sedangkan kemiripan pada saja’ dilihat dari kecocokannya fashilahnya baik dalam wazan ataupun hurufnya.

MUHASSINAAT MA’NAWIYAH
Tauriyah secara leksikal bermakna ‘tersembunyi’. Secara terminologi: suatu lafal yang mempunyai makna ganda, makna pertama dekat dan jelas akan tetapi tidak dimaksud, sedang makna kedua jauh dan tersembunyi, akan tetapi makna itulah yang dimaksud
Tauriyah mempunyai beberapa kategori:
- Mujarradah: tauriyah yg tdk dibarengi oleh ungkapan yang cocok untuk keduanya
- Murasysyahah: tauriyah yang dibarengi oleh ungkapan yang sesuai untuk makna dekat
- Mubayyanah: tauriyah yang dibarengi oleh ungkapan yang sesuai untuk makna jauh
- Muhayyanah: tauriyah yang terwujud setelah ada ungkapan sebelum atau sesudahnya
Musyakalah secara leksikal bermakna ‘saling membentuk’. Secara terminologi: menuturkan sesuatu ungkapan bersamaan dengan ungkapan lain, yang kedudukannya berfungsi sebagai pengimbang.
Istikhdam: menyebutkan suatu lafal yang mempunyai dua makna, sedangkan yang dikehendaki adalah salah satunya
Muqaabalah secara leksikal bermakna ‘saling berhadapan’. Secara terminologis: mengemukakan dua makna yang sesuai atau lebih kemudian mengemukakan perbandingannya secara tertib
Ta’kid al-madl bimaa yusybih al-dzamm: memuji seseorang akan tetapi seperti mencela:
- Menafikan suatu sifat tercela setelah mendatangkan sifat terpuji
- Menetapkan sifat pujian, kemudian diikuti oleh istitsna dan sifat pujian lainnya
I’tilaf al-lafzhi ma’a al-ma’na:
- Definisi pertama: menghimpun dua perkataan yang saling terkait baik lafalnya maupun maknanya. Juga dinamakan tanasub (keterkaitan), tawafuq (kesesuaian), i’tilaf (adanya pertalian)
- Definisi kedua: Menghimpun dua hal atau beberapa hal yang bersesuaian. Hal-hal tsb tidak dilihat dari aspek tersusunnya.

– Definisi ketiga: keadaan beberapa lafal sesuai dengan beberapa makna. Karena itu dipilih lafal-lafal yang agung dan kata-kata yang keras untuk menunjukkan kemegahan dan kesemangatan. Selain itu pula dipilih lafa-lafal yang lunak dan lembut untuk sanjungan
Catatan:
– Pertama: adanya kesesuaian antara dua ungkapan
– Kedua: makna mempunyai kesesuaian
– Ada penggabungan dua hal dan beberapa hal
Al-Jam’u secara leksikal bermakna ‘mengumpulkan’. Secara terminologi: menghimpun beberapa lafal dalam satu hukum
At-Tafriq secara leksikal bermakna ‘memisahkan’. Secara terminologi: mutakallim sengaja menyebut dua hal yang sejenis, kemudian mengungkapkan perbedaan dan pemisahan di antara keduanya, untuk tujuan memuji, mencela, menisbatkan, dll
Husn at-Ta’lil: sastrawan mengingkari secara terang-terangan ataupun tersebunyi terhadap alasan yang telah diketahui umum bagi suatu peristiwa, kemudian dia mendatangkan alasan lain yang bernilai sastra dan lembut sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya
Istithraad: seorang pembicara berpindah dari maksud ungkapan yang sedang diucapkannya kepada ungkapan lain yang masih mempunyai keterkaitan dengannya. Setelah itu ia kembali kepada ungkapan yang ditujukan sejak awal
Iththiraad: suatu ungkapan yg mengandung penyebutan nama dari beberapa bapak atau anak secara tertib dan mutlak
Taujih secara leksikal bermakna ‘pembimbingan’ atau ‘pengarahan’. Secara istilah: mendatangkan kalimat yang memungkinkan dua makna yang berlawanan secara seimbang, seperti mengejek, memuji, agar orang yang mengucapkan dapat mencapai tujuannya, yaitu tidak meaksudkan pada salah satunya secara eksplisit
Definisi lain taujih: mengucapkan satu kalam ihtimal yang memungkinkannya mempunyai dua makna yang berbeda.
Perbedaan taujih dan tauriyah:
- Tauriyah terdapat pada kata, sedang taujih terdapat pada sebuah susunan kalam
- Pada tauriyah, dari kedua pengertian yang dikandungnya hanya satu yang dimaksud, yaitu makna jauh. Sedangkan pada taujih, tidak jelas mana makna yang dimaksudnya
Thibaq adalah terhimpunnya dua kata dalam satu kalimat yang masing-masing kata tsb saling berlawanan dari segi maknanya.
Thibaq ada dua jenis:
- Thibaq ijab: apabila di antara kedua kata yang berlawanan tdk mempunyai perbedaan dalam hal ijab (positif) dan salab (negatif) – nya.
- Thibaq salab: apabila di antara kedua kata yang berlawanan mempunyai perbedaan dalam nilai ijab (positif) dan salab (negatif) - nya
Thayy dan nasyr: menyebutkan beberapa makna kemudian menuturkan makna untuk masing-masing satuannya secara umum dengan tanpa menentukan, karena bersandar kepada upaya pendengar dalam membedakan makna untuk masing-masing dari padanya dan mengembalikan untuk yang semestinya:
- Lafal yang berbilang itu disebutkan menurut tertib kandungannya
- Lafal yang berbilang itu disebutkan tidak menurut tertib urutannya
Mubalaghah: ekspresi ungkapan yang menggambarkan sesuatu hal secara berlebihan yang tidak mungkin (tdk sesuai dengan kenyataan). Ada tiga kategori:
- Tabligh: suatu ungkapan itu mungkin terjadi baik secara logika maupun realita.
- Ighraq: menggambarkan sesuatu yg secara logika tdk mungkin terjadi tetapi secara realita mgk terjadi
- Ghulu: ungkapan yg menggambarkan sesuatu baik secara logika maupun realita tidak mungkin terjadi. Ghulu yang diterima biasanya disertai lafal ‘kaada’ dan ‘lau’
Iltifat secara etimologis memiliki arti ‘perubahan’, ‘genggaman’, ‘lilitan’, ‘makan’, ‘melihat’, ‘campuran’
Iltifat: perpindahan dari semua dhamir; mutakallim, mukahatthab atau ghaib kepada dhamir lain, karena tuntutan dan keserasian yang lahir melalui pertimbangan dalam menggubah perpindahan itu, untuk menghiasi percakapan dan mewarnai seruan, agar tidak jemu dengan satu keadaan dan sebagai dorongan untuk lebih memperhatikan, karena dalam setiap yang baru itu ada kenyamanan, sedangkan sebagian iltifat memiliki kelembutan, pemiliknya adalah rasa bahasa yang sehat
Iltifat: perpindahan gaya bahasa dari bentuk mutakallim atau mukhatthab atau ghaib kepada bentuk yang lainnya, dengan catatan bahwa dhamir yang dipindah itu dalam masalah yang sama kembali kepada dhamir yang dipindahkan, dengan artian bahwa dhamir kedua itu dalam masalah yang sama kembali kepada dhamir pertama
Iltifat: perpindahan dari sebagian gaya bahasa (uslub) kepada gaya bahasa lain yang mendapat perhatian
Iltifat: penyimpangan dari suatu gaya bahasa dalam kalam kepada gaya bahasa lain yang berbeda dengan gaya bahasa yang pertama
Iltifat dhamir:
- Iltifat dari mutakallim kepada mukhatthab
- Iltifat dari mutakallim kepada ghaib
- Iltifat dari mukhatthab kepada ghaib
- Iltifat dari ghaib kepada mukhatthab
- Iltifat dari ghaib kepada mutakallim
Iltifat ‘adad al-dhamir: perpindahan dari satu bilangan pronomina kepada pronomina lain di antara pronomina yang tiga, dengan catatan bahwa dhamir baru itu kembali kepada dhamir yang sudah ada dalam materi yang sama:
- Dari mutakallim mufrad kepada mutakallim ma’al ghair
- Dari mutakallim ma’al ghair kepada mutakallim mufrad
- Dari mukahatthab mufrad kepada mukhatthab mutsanna
- Dari mukhatthab mufrad kepada mukhatthab jamak
- Dari mukhatthab mutsanna kepada mukhatthab mufrad
- Dari mukhatthab mutsanna kepada mukhatthab jamak
- Dari mukhatthab jamak kepada mukhatthab mufrad
- Dari ghaib mufrad kepada ghaib mutsanna
- Dari ghaib mufrad kepada ghaib jamak
- Dari ghaib mutsanna kepada ghaib jamak
- Dari ghaib jamak kepada ghaib mufrad
- Dari ghaib jamak kepada ghaib mutsanna
Iltifat anwa’ al-jumlah: perpindahan dari satu jumlah (kalimat) kepada jumlah lain di antara macam-macam jumlah yang ada; dengan catatn bahwa materi pada jumlah baru itu kembali kepada jumlah yang sdh ada.
- Dari jumlah fi’liyah kepada jumlah ismiyyah
- Dari jumlah ismiyyah kepada jumlah fi’liyyah
- Dari kalimat berita kepada kalimat melarang
– Dari kalimat berita kepada kalimat perintah
– Dari kalimat perintah kepada kalimat berita
– Dari kalimat melarang kepada kalimat berita
– Dari kalimat bertanya kepada kalimat berita
Para ahli balaghah bersepakat tentang keterkaitan iltifat dengan makna, pengaruhnya kepada jiwa, serta faedah dan poin yang didapat dalam berbagai gaya bahasa dan konteks.

Makna Tulisan dan Lisan

! أخي ، وتبين عندما نكتب شيئا لجعلها أكثر مفهومة للجمهور يجب أن تملك بضعة معايير :

1. تام له كتابه (الكمال) ،
-- تكوين الجملة (موضوع الكائن المسند) أو العكس بالعكس
-- كيفية كتابة وفقا للهجاء
-- المجدية / لها معنى
-- السبب
-- لغة يفهمها الناس
-- الجملة تماما (فصيحا ، مستمعين لا يجب أن نسأل مرة أخرى لأنهم يشعرون بما فيه الكفاية لأن من التفاصيل)

2. الربط بين الكلمات والسلوك الأخرى ،
-- موفق (فقط بين أدلة مكتوبة أو غيرها من الصور)
-- وغيرها.

3. جودة المحتوى الكتابة ،
-- هناك نقطة وفوائدها،
-- أقر العديد من حقيقته،
-- عدم التكبر،
-- وبعد امتياز،
-- انها لديها اكثر قيمة (القيمة المضافة) ،
-- معترف بها من قبل الخصم والصديق ،
-- تميل إلى الحصول على أكثر مما هي عليه خلال هذا الوقت ،
-- زيادة الوعي الذاتي،
-- زيادة قوة الإيمان في قوة الله سبحانه وتعالى.

4. نفهم أن من قبله ،
-- الجاهلية (بودو) ،
-- والعادية
-- الذكية.
-- لا نعرف حتى الآن
-- تعرف مسبقا
-- الاستماع ولكن الدراسة لم
-- وغيرها.

5. كيفية توصيل،
-- مؤدب
-- الأخلاقية
-- منظم
-- فهمت مختلف الدوائر
-- وغيرها

نأمل من المفيد!

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saudaraku!, ternyata ketika kita menulis sesuatu untuk umum agar lebih difaham harus memeliki beberapa keriteria:

1. Tulisannya Tam (Sempurna),
- Susunan kelimat SPO (Subjek Predikat Objek) atau sebaliknya
- Cara nulis sesuai ejaan
- Bermakna/memiliki arti
- Beralasan
- Bahasanya difahami orang
- Kelimatnya sempurna (Disampaikan baik, Pendengar tidak harus bertanya lagi karena merasa cukup oleh sebab jelasnya)

2. Persambungan kata dan tingkah lainnya,
- Muwafaqat (Sama antara yang ditulis dengan bukti gambar atau lainnya)
- Dan lainnya.

3. Kwalitas isi tulisannya,
- Ada faidah dan manfaatnya,
- Diakui banyak pihak akan kebenarannya,
- Tidak Arogansi,
- Memiliki keistimewaan,
- Memiliki nilai lebih (added value),
- Diakui oleh lawan maupun kawan,
- Cenderung untuk mendapatkan yang lebih dari yang ada selama ini,
- Menambah kesadaran diri,
- Menambah kekuatan iman terhadap ke-Maha Kuasaan Allah.

4. Memahami yang dihadapannya,
- Awwam,
- Biasa dan
- Pintar.
- Belum tahu
- Sudah tahu
- Dengar tapi gak dipelajari
- Dan lainnya.

5. Cara menyampaikannya,
- Sopan
- Beretika
- Tertib
- Difahami berbagai kalangan
- Dan Lainnya

Pengantar Sub Balagoh


Al-Balaaghah secara leksikal bermakna ‘sampai’. Sedangkan secara terminologi, balaaghah adalah kesesuaian suatu kalam dengan situasi dan kondisi disertai kefasihan yang tinggi serta terbebas dari dha’fu al-ta’lif dan tidak ta’qid ma’nawi wal lafdzi.

Fashaahah al-balaaghah tergantung pada dua aspek, yaitu balaaghah al-kalaam dan balaaghah al-mutakallim.

Kalam baligh: kalam yang sesuai dengan tuntutan keadaan serta terdiri atas kata-kata yang fasih
Mutakallim baligh: kepiawaian yang ada pada diri seseorang dalam menyusun kata-kata baligh (indah dan tepat) sesuai dengan keadaan, waktu, dan tempat.

Secara ilmiah, ilmu balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang mengarahkan pembelajaran untuk bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan dan ketelitian dalam menangkap keindahan. Mampu menjelaskan perbedaan yang ada di antara macam-macam uslub (ungkapan). Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghah, bisa diketahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits.

Ilmu Bahasa:
Nadhori (teoretik) dan Aththabiqy (terapan)
Nadhori mencakup kaidah-kaidah (qawaaid) tentang sharf, nahwu, balaghah
Aththabiqy mencakup bidang kajian pengajaran bahasa asing, terjemah, psikolinguistik dan sosiolinguistik

Balaghah merupakan kajian teoretik yang membahas bentuk-bentuk pengungkapan dilihat dari tujuannya.
Sebagai wilayah kajian, ilmu ini terkait dengan makna, sehingga selalu bersinggungan dengan semantik.
Semantik berarti teori makna atau teori arti. Ilmu ini merupakan cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti
Semantik mempunyai objek berupa hubungan antara objek dan simbol linguistik. Selain itu ilmu ini membahas perubahan makna kata
Semantik sebagai ilmu untuk mengungkapkan makna mempunyai beberpa teori, di antaranya: conceptual theory, reference atau corespondence theory, dan field theory
Conceptual theory berpendapat: bahwa makna adalah “mental image” pembicara dari subjek yang dibicarakan
Reference theory/corespondence theory: makna adalah hubungan langsung antara makna dengan simbol-simbol acuannya
Field theory: teori ini menafsirkan kaitan makna antara kata atau beberapa kata dalam kesatuan bidang semantik tertentu
Semantik mengkaji kata dan makna, denotasi dan konotasi, pola struktur leksikal dan tata urut taksonomi
Ada kesamaan antara semantik dan balaghah, tapi ada satu bidang yang tidak dipelajari dalam semantik, yaitu ilmu badi’
Ilmu balaghah merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah kalimat, yaitu mengenai maknanya, susunannya, pengaruh jiwa terhadapnya serta keindahan dan kejelian pemilihan kata yang sesuai dengan tuntutan.

Ada tiga sub ilmu balaghah:

Ilmu ma’aani: mempelajari pengungkapan suatu ide atau perasaan ke dalam sebuah kalimat yang sesuai dengan tuntutan keadaan. Bidang kajian ini meliputi: kalam dan jenis-jenisnya, tujuan-tujuan kalam, washl dan fashl, qashr, dzikr dan hadzf, ijaz, ithnab, dan musawa

Ilmu Bayan: Ilmu untuk mengungkapkan suatu makna dengan berbagai uslub. Ilmu ini objek pembahasannya berupa uslub-uslub yang berbeda untuk mengungkapkan suatu ide yang sama. Ilmu bayan berfungsi untuk mengetahui macam-macam kaidah pengungkapan, sebagai ilmu seni untuk meneliti setiap uslub dan sebagai alat penjelas rahasia balaghah. Kajiannya mencakup tasybih, kinayah. dan majaz,

Ilmu Badi’: membahas tata cara memperindah suatu ungkapan, baik pada aspek lafal maupun pada aspek makna. Ilmu ini membahas dua bidang utama, yaitu muhassinaat lafdziyyah dan muhassinaat ma’nawiyyah. Muhassinaat lafdziyyah meliputi jinas, iqtibas, dan saja’. Muhassinaat ma’nawiyyah meliputi tauriyah, tibaq, muqaabalah, husn at-ta’lil, ta’kid al madh bima yusybih al-dzamm dan uslub alhakiim
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ILMU BALAGOH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger